CONTOH PENULISAN DAFTAR PUSTAKA




Penulisan daftar pustaka juga berbeda-beda tergantung dari apa yang dijadikan sumber daftar pustaka tersebut. Berikut penulis daftar pustaka yang bersumber dari :
Buku
Nama pengarang (penulisan nama dibalik dari belakang Misal : Naufa Zahra, maka menjadi “Zahra, Naufa” ), tahun terbit, judul, tempat terbit dan tahun terbit.
  • Arisandi, Yahoma dan Yoovita Andriani. 2001. Tanaman Obat Plus Pengobatan Alternatif. Jakarta: Setia Kawan
  • Said, Ahmad. 2007. Khasiat dan Manfaat Temulawak. Jakarta: Sinar Wadja Lestari
  • Dalimartha, Setiawan, dr. 2001. 36 Resep Tumbuhan Obat untuk Menurunkan Kolesterol. Jakarta: Penebar Swadaya
  • Hariani, Sangat M. dkk. 2000. Kamus Penyakit dan Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Internet :
Rahimawati. 2013. Contoh Daftar Pustaka dan Cara Penulisannya, http://contohsuratku.com/contoh-daftar-pustaka-yang-baik-dan-benar.html, (diakses 22 Mei 2013)
Koran
Rahimawati, B. 10 Mei, 2013. Unsur penting dalam penulisan daftar pustaka. Majpahit Pos , hlm. 2 & 6
UU, Permen dan Kepres
Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.  Jakarta: Sekretariat Negara
Ensiklopedia, Kamus
Stafford-Clark, D. 1978. Mental disorders and their treatment. The New Encyclopedia Britannica. Encyclopedia Britannica. 23: 956-975.
Chicago, USA . Echols, J.M. dan Shadily, H. (Eds). 1989. Kamus Inggris – Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.
Skripsi, Tesis, Disertasi, Laporan Penelitian:
Kuncoro, T. 1996. Pengembangan Kurikulum Pelatihan Magang di STM Nasional Malang Jurusan Bangunan, Program Studi Bangunan Gedung: Suatu Studi Berdasarkan Kebutuhan Dunia Usaha Jasa Konstruksi . Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPS IKIP MALANG.
Film (Movie)
Oldfield, B. (Producer) 1977. On the edge of the forest. Tasmanian Film Corporation. Hobart, Austraalia,. 30 mins.
Kutipan adalah pendapat dari seseorang atau pengarang yang kita uraikan kembali. Pengarang atau seseorang,baik berupa tulisan dalam buku,majalah,surat kabar,atau bentuk tulisan lainnya,atau mungkin dalam bentuk lisan.

Tujuan Kutipan
  • Sebagai Landasan teori untuk tulisan kita
  • Penjelasan
  • Penguat pendapat penulis.
  • Bahan bukti sebagai penunjang pendapat
Daftar Pustaka

Daftar pustaka (bibliografi) merupakan sebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel-artikel, dan bahan-bahan penerbitan lainnya, yang mempunyai hubungan dengan isi sebuah karangan. Melalui daftar pustaka yang disertakan pada akhir tulisan, para pembaca dapat melihat kembali pada sumber aslinya.

Tujuan Daftar Pustaka (Bibliografi)
  • Memberikan deskripsi yang penting tentang buku, majalah, harian itu secara keseluruhan
  • Sebagai pelengkap, para pembaca agar dapat melihat atau membaca sumber aslinya. Dalam daftar pustaka dapat mengtahui keterangan-keterangan yang lengkap mengenai buku atau majalah itu. 
Catatan Kaki (Foot Note)
Catatan Kaki (foot note) adalah keterangan dari sumber kutipan yang di tempatkan langsung di belakang kutipan. Semua kutipan harus ditunjukan sumbernya dalam sebuah catatan kaki. Catatan kaki dapat juga untuk memberi keterangan lain tentang teks.

Tujuan Catatan Kaki(Footnote)
  • Pemenuhan kode etik yang berlaku, sebagai penghargaan terhadap orang lain.
  • Menyusun Pembuktian : semua pernyataan yang penting yang sifat nya bukan pengetahuan umum atau hasil penelitian orang lain harus di dukung oleh pembuktian-pembuktian atau kebenaran-kebenaran.
  • Sebagai keterangan tambahan untuk uraian ( Inti atau sari dari fragmen yang dipinjam).

Perbedaan antara ketiga sumber penulisan diatas, melalui kutipan-kutipan itu tulisan kita terkait dengan penemuan-penemuan atau teori yang telah ada. Sedangkan referensi catatan kaki dipergunakan untuk menunjuk kepada sumber dan pernyataan atau ucapan yang dipergunakan dalam teks. Sebab itu referensi itu harus menunjuk dengan tepat dimana pembaca dapat menemukan pernyataan atau ucapan itu. Sebaliknya daftar pustaka memberikan deskripsi yang penting tentang buku, majalah , harian itu secara keseluruhan. Karena itu fungsi catatan kaki dan daftar pustaka seluruhnya tumpang-tindih satu sama lain. 

1. Kutipan
Mengutip bukan merupakan suatu pekerjaan yang tercela.Bahkan, sepanjang dilakukan dengan jujur, mengutip merupakan suatu keniscayaan dalam menulis karya ilmiah. Namun begitu, jika dilakukan tampa kejujuran mengutip merupakan suatu tindakan plagiat (penjiplakan). Oleh sebab itu, sedapat mungkin dalam semua karangan ilmiah, mengutip harus disertai (notes).
Kutipan adalah bagian dari pernyataan, pendapaat, definisi, rumusan, atau hasil penelitian dari penulis lain atau penulis sendiri yang telah terdokumentasi. Kutipan dilakukan apabila penulis sudah memperoleh sebuah kerangka berpikir yang mantap. Jika belum, hasilnya akan merupakan karya "suntingan".
Pengunaan kutipan memiliki beberapa manfaat, yaitu:
1. Untuk menegaskan isi uraian
2. Untuk membuktikan kebenaran dari sebuah pernyataan yang dibuat oleh penulis
3. Untuk memperhatikan kepada pembaca materi dan teori yang digunakan penulis
4. Untuk mengkaji interpretasi penulis terhadap bahan kutipan yang digunakan
5. Untuk menunjukan bagian atau aspek topik yang akan dibahas
6. Untuk mencegah pengunaan dan pengakuan bahan tulisan orang lain sebagai milik sendiri (plagiat)
Ada beberapa cara mengutip yang dapat diterapkan secara bervariasi dalam tulisan. Jenis kutipan itu adalah sebagai berikut.

A. Kutipan Langsung
Kutipan langsung adalah kutipan persis apa adanya, tidak diubah, sama seperti yang dibicarakan/ditulis yang dikutip. Kutipan langsung ini biasanya digunakan jika kita menuliskan sesuatu yang riskan atau salah penafsiran jika dilakukan dengan kutipan tak langsung, misalnya: mengutip ayat suci, puisi atau pasal-pasal dalam undang-undang dan yang lain-lain yang membutuhkan keautentikan kutipan. Kutipan langsung terbagi atas kutipan panjang dan kutipan pendek. Kutipan panjang biasanya terdiri dari lima baris atau lebih. Penulisan biasanya berbentuk alinea baru, spasi tunggal, margin kiri masuk kedalam teks lima spasi dan tidak mengunakan tanda petik Kutipan pendek biasanya kurang dari lima baris. Penulisanya diintegrasikan dengan tulisan inti (teks), dua spasi, dan diberi tanda kutip. Prinsip yang harus diperhatikan pada saat mengutip langsung adalah
• Tidak boleh melakukan perubahan terhadap teks asli yang dikutip
• Harus mengunakan tanda [sic!], jika ada kesalahan dalam teks asli
• mengunakan tiga titik berspasi [. . .] jika ada bagian dari kutipan yang dihilangkan.
• Mencantumkan sumber kutipan dengan sistem MLA (The Modern Language Association), APA (The American Psycological Association), atau sistem yang berlaku sesuai dengan selingkung bidang.
B. Kutipan tak langsung (inti sari pendapat)
Kutipan tak langsung adalah kutipan yang sudah diubah redaksinya (kalimatnya). Dalam kutipan tak langsung yang dikutip hanya inti atau maksud pembicara/penulis yang dikutip. Redaksi diganti dan dibuat sendiri oleh penulis yang mengutip. Kutipan ini terbagi atas parafrase dan rangkuman. Parafrase adalah pengungkapan kembali maksud penulis dengan kalimat (redaksi) sendiri. Rangkuman adalah pengungkapan maksud penulis dengan kalimat (redaksi) sendiri dalam bentuk yang lebih pendek dari aslinya, misalnya aslinya adalah sepuluh halaman dirangkum menjadi dua kalimat. Semua kutipan tak langsung tidak mengunakan tanda petik. Kutipan tidak langsung dapat dibuat secara panjang maupun pendek dengan cara
• Diintegrasikan dengan teks
• Diberi jarak antarbaris yang sama dengan teks
• Dicantumkan sumber kutipan dengan sistem MLA, APA, atau selingkung bidang
C. Kutipan Pada Catatan Kaki
Kutipan pada catatan kaki, biasanya, merupakan kutipan langsung yang dapat dicantumkan secara panjang maupun pendek dengan cara.
• Selalu diberi jarak spasi rapat
• Diapit oleh tanda kutip, dan
• Dikutip tepat sebagaimana teks aslinya
D. Kutipan Ucapan Lisan dan Chatting (pembicaraan singkronik via internet)
Kutipan ucapan lisan atau chatting, sebenarnya, tidak terlalu dianjurkan dalam karya ilmiah. Akan tetapi, jika akan digunakan, hal-hal yang harus diperhatikan adalah.
• Meminta persetujuan dari sumber, sedapat mungkin berupa transkip yang ditandatangani nara sumber
• Mencatat tanggal dan peristiwa tempat ujaran itu diucapkan
• Menyebutkan dengan jumlah sumbernya
• Menuliskan kutipan secara langsung atau tidak langsung pada badan teks atau pada catatan kaki
2. Catatan-catatan
Catatan-cataan (Notes) biasanya digunakan untuk menunjukan sumber rujukan (maraji) kutipan. Ada tiga macam catatan: catatan kaki (footnotes), catatan akhir (endnotes), dan catatan dalam/catatan badan (innotes, bodynotes). Disamping untuk kutipan, baik catatan kaki maupun catatan akhir biasanya digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang berada diluar konteks pembicaraan, misalnya penjelasan yang mengangu jika ditulis dalam teks. Catatan kaki biasanya terletak dibawah teks, sedangkan catatan akhir terletak diakhir teks atau sebelum daftar pustaka. Catatan dalam, catatan badan biasanya terletak langsung sebelum atau sesudah kutipan dengan mengunakan tanda kurung. Perlu dinyatakan disini, bahwa susunan catatan kaki tidak dibalik
Fungsi catatan kaki dan catatan akhir ini tidak hanya untuk menunjukan sumber kutipan, tetapi ada beberapa fungsi lain. Jadi, ada empat fungsi catatan kaki dan akhir.
• Untuk manyusun pembuktian, khususnya yang berkaitan dengan pembuktian kebenaran yang dilakukan oleh penulis lain.
• Untuk referensi atau untuk menyatakan utang budi kapada penulis yang teksnya digunakan sebagai bahan kutipan.
• Untuk menyampaikan karangan tambahan yang dibutuhkan, namun tidak berkaitan langsung dengan karya ilmiah
• Untuk merujuk pada bagian lain dari karya ilmiah

Jika sitem catatan digunakan untuk manyusun pembuktian atau referensi, ada unsur-unsur dan aturan yang perlu diketahui oleh penulis karya ilmiah. Unsur-unsur yang harus yang digunakan sama dengan unsur-unsur yang digunakan dalam daftar pustaka.


Perbedaan antara sistem catatan dan daftar pustaka
SISTEM CATATAN SISTEM DAFTAR PUSTAKA
Nomor halaman dari sumber rujukan harus dicantumkan. Nomor hakaman tidak selalu harus dicantumkan
Nama sumber rujukan dicantumkan dengan urutan: nama diri diikuti oleh nama keluarga Nama sumber ditulis dengan nama keluarga terlebih dahulu, baru nama diri
Ada penyebutan referensi pertama dan penyebutan referensi lanjutan. Tidak ada penyebutan referensi lanjutan
Unsur-nsur yang harus dicantumkan dalam penyusunan referensi pertama adalah
• Nama penulis yang diawali dengan penulisan nama diri diikuti nama keluarga,
• Judul karya tulis yang dicetak miring dengan mengunakan huruf besar untuk huruf pertama kecuali kata sambung dan kata depan, dan
• Data publikasi berisi nama tempat (kota), koma, dan tahun terbitan yang diletakan diantara tanda kurung, dan namor halaman yang diletakan di luar tanda kurung, contoh: (Jakarta: Djambatan,1967), 49¬-51
• Untuk kutipan dari buku berjilid atau dari jurnal/majalah ilmiah,nomor jilid mengunakan angka romawi atau angka arab, diikuti dengan data publikasi dalam kurung, koma, dan diakhiri nomor halaman yang mengunakan angka arab, contoh: MISI, I (April,1963): 27-30
Jika dalam sistem catatan terjadi perujukan lanjutan yang merujuk pada sumber yang sama, digunakan singkatan yang berasal dari bahasa latin untuk merujuk pada sumber pertama. Ketiga jenis singkatan itu adalah sebagai berikut.
a) Ibid. : sinkatan ini berasal dari kata lengkap ibidem yang berarti 'pada tempat yang sama'. Singkatan ini digunakan jika perujukan lanjutan mengacu langsung pada karya yang disebut dalam perujukan nomor sebelumnya. Jika nomor halaman pengacuan sama, tidak perlu dicantumkan nomor halaman. Jika nomor halamanya berbeda, setelah Ibid. Dicantumkan nomor halamanya. Ibid. Harus diikuti oleh titik dan dicetak miring. Contoh: Ibid., 87
b) Op.cit. : Singkatan ini berasal dari gabungan kata opere citato yang berarti 'pada karya yang telah dikutip'. Singkatan ini digunakan jika perujukan lanjutan mengacu pada perujukan pertama yang berasal dari buku, namun diselingi oleh perujukan lain. Teknik penulisanya adalah mengunakan nama keluarga penulis, diikuti oleh Op. Cit., diikuti oleh nomor halaman, jika halaman perujukanya berbeda dari perujukan pertama. Contoh: Keraf, op. Cit., 37
c) Loc. Cit. : Singkatan ini berasal dari gabungan kata loco citato yang berarti 'pada tempat yang telah dikutip'. Singkatan ini digunakan jika perujukan lanjutan mengacu pada perujukan yang pertama yang berasal dari artikel dalam bunga rampai/antologi, majalah, ensiklopedia, surat kabar, namun diselingi oleh perujukan lain. Oleh karena hanya merupakan bagian dari suatu buku, majalah, surat kabar (atau opus, 'karya'), artikel yang dirujuk dengan locus yang berarti 'tempat'. Teknik penulisanya adalah mengunakan nama keluarga penulis, diikuti oleh Loc. Cit., diikuti oleh nomor halaman, jika halaman perujukanya berbeda dari perujukan pertama. Contoh: Anjuang, Loc, Cit., 40
3. Penulisan Daftar Pustaka
Daftar pustaka dalam tulisan merupakan hal yang tidak boleh ditiadakan. Hal ini berhubungan erat dengan rujukan. Bagian daftar pustaka dicantumkan pada bagian akhir sebuah tulisan. Jika tulisan ilmiah mempunyai lampiran, daftar pustaka diletakan sebelum bagian lampiran.
Yang harus diperhatikan dalam menyusun daftar pustaka adalah:
• Satu orang penulis dan satu karya
• Dua orang atau lebih penulis dan satu karya
• Satu orang atau lebih penulis dan satu atau lebih karya, dan
• Lembaga sebagai penulis
Jika ditinjau dari segi media penyajian tulisan, masalah yang perlu diperhatikan adalah :
• Makalah
• Buku
• Bagian buku
• Majalah/surat kabar/artikel
• Buku terjemahan
Dan jika yang ditinjau dari segi penerbitan, yang diperhatikan ialah telah diterbitkan.
Daftar pustaka/rujukan berisi daftar semua pustaka dan rujukan yang dijadikan acuan/pegangan penelitian. Rujukan yang tidak relevan tidak boleh dicantumkan dalam daftar pustaka. Penelitian yang tidak mencantumkan daftar pustaka merupakan penelitian yang tidak lengkap dan bernilai rendah.
Daftar pustaka diketik mulai margin kiri dan disusun secara alfabetis, tanpa nomor, dengan urutan sebagai beriku
1) Nama pengarang,
2) Tahun penerbitan,
3) Judul penerbitan,
4) Tempat penerbitan,
5) Nama penerbitan, atau
1. Nama instansi atau badan penerbitan
2. Tahun penerbitan
3. Judul penerbitan,
4. Tempat penerbitan.
Tiap penyebutan keterangan pustaka diakhiri dengan tanda titik, kecuali penyebutan tempat penerbitan diakhiri dengan tanda titik dua. Nama pengarang mengukuti standar internasional, yaitu nama paling belakang ditarik ke depan diikuti dengan tanda koma. Judul ditulis dengan huruf miring, sedangkan subjudul ditulis dengan tanda petik dua. Contoh :
1. Daftar pustaka untuk buku
Cornel, Naiboku. 1985. Keteknikan Pabrik dalam Suatu Sistem Managemen Industri. Jakarta: Akademika Pressindo CV
Kartodirdjo. 2005. Sejak Indische Sampai Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Risdale. R. E. 1986. Electric Circuits: For Enginering Technology. Tokyo: Mc. Grawill
2. Daftar pustaka untuk majalah, surat kabar, brosur, catalog
"Arsitektur dan Kepentingan Konsumen" dalam Konstruksi. Nomor 6.1985:58
"Tajuk Rencana" Kompas 23 juni 2007
3. Daftar pustaka diktat, catatan kuliah (yang dicetak untuk kalangan sendiri/belum diterbitkan)
Ahmadi, Muklis, dkk.2000. Komposisi Bahasa Indonesia I: Tipe dan Jenis Bentuknya. Malang:IKIP
4. Daftar pustaka makalah
Pajaitan, Beni, dkk. 1986. Pembuatan Gedung Fakultas Kesehatan Masyarakat
UI, Depok (laporan praktek kerja). Jakarta:UI
5. Daftar pustaka terbitan instansi/lembaga
MPR RI. 1996. Hasil-Hasil Sidang Umum IV. Jakarta : Departemen Penerangan RI
6. Daftar pustaka sumber dari internet
Arifin, Muhamad. 2006. Kontuinitas dan Perubahan Nasionalisme di Indonesia dalam persepektif Global dan Lokal. http://fisip.unmul.ac.id.nasionalisme/. Akses April 2006


notasi ilmiah


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Karangan ilmiah merupakan referesentasi hasil pemikiran penulis atas suatu objek kajian kepada objek pembaca melalui bahasa tulis dengan mengikuti sistematika dan kaidah penulisan ilmiah. Karangan jenis ini biasanya memiliki aturan standar, baik dari aspek bahasa, maupun dari aspek metode penulisan. Adapun aspek penting dalam karangan ilmiah, yaitu sebuah catatan pendek untuk mengetahui sumber informasi ilmiah yang dikutip pada suatu karya ilmiah yang biasa disebut notasi ilmiah. Pembuatan notasi ilmiah dalam karangan ilmiah mencakup pembuatan kutipan, catatan kaki, dan daftar pustaka.
B.      Rumusan Masalah
1.       Apakah kegunaan notasi ilmiah dalam suatu karangan ilmiah?
2.       Bagaimanakah cara penggunaan notasi ilmiah dalam suatu karangan ilmiah?
3.       Mengapa notasi ilmiah begitu penting adanya dalam suatu karangan ilmiah?

C.      Tujuan Penulisan
1.       Untuk mengetahui kegunaan dari notasi ilmiah dalam suatu karangan ilmiah.
2.       Untuk mengetahui cara penggunaan noatsi ilmiah dalam suatu karangan ilmiah.
3.       Untuk mengetahui seberapa pentingnya noatasi ilmiah dalam sebuah karangan ilmiah.









BAB II
PEMBAHASAN

A.        NOTASI ILMIAH
Notasi ilmiah adalah catatan pendek untuk mengetahui sumber informasi ilmiah yang dikutip dalam dalam satu karya ilmiah. Karena catatan tersebut diletakan di bagian bawah halaman maka sering disebut catatan kaki atau footnote. Catatan kaki tidak hanya digunakan untuk mengetahui dan mendalami sumber informasi, tetapi juga untuk memberikan catatan tambahan tentang suatu informasi dalam penulisan ilmiah tanpa mengganggu keseluruhan penulisan tersebut. Ada beberapa cara untuk membuat notasi ilmiah yang diakui secara internasional. Pembuatan notasi ilmiah mencakup pembuatan kutipan, catatan kaki, dan daftar pustaka.
B.     KUTIPAN
         Pembuatan skripsi dan karya ilmiah mengharusakan para penulis mencari sumber informasi ilmiah yang diperlukan untuk penulisan tersebut. Pengetahuan yang dikutip dari seseorang dipergunakan untuk berbagai tujuan sesuai dengan argumentasi yang diajukan misalnya untuk mendukung pernyataan penulis atau mendefinisikan sesuatu.
1.  Tujuan Menulis Kutipan
Kutipan adalah pinjaman kalimat atau pendapat dari seseorang pengarang, atau ucapan seseorang yang terkenal, baik terdapat dalam buku-buku maupun majalah-majalah. Penulis cukup mengutip pendapat yang dianggapnya benar itu dengan menyebutkan di mana pendapat itu dibaca, sehingga pembaca dapat mencocokkan kutipan dengan sumber aslinya.
Namun, penulis jangan sampai menyusun tulisan yang hanya berisi kumpulan kutipan. Kerangka karangan, kesimpulan, dan ide dasar harus tetap pendapat penulis pribadi, kutipan berfungsi untuk menunjang/mendukung pendapat tersebut. Selain itu, seorang penulis sebaiknya tidak melakukan pengutipan yang terlalu panjang, misalkan sampai satu halaman atau lebih, hingga pembaca lupa bahwa apa yang dibacanya adalah kutipan. Kutipan dilakukan seperlunya saja sehingga tidak merusak alur tulisan.
Kutipan juga bisa diambil dari pernyataan lisan dalam sebuah wawancara, ceramah, ataupun pidato. Namun, kutipan dari pernyataan lisan ini harus dikonfirmasikan dulu kepada narasumbernya sebelum dicantumkan dalam tulisan.
Fungsi utama kutipan dalam karya ilmiah adalah menegaskan isi uraian atau membuktikan kebenaran yang diajukan oleh penulis berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh  dari literatur, pendapat seseorang atau pakar, bahkan pengalaman empiris. Jadi kutipan hanya berfungsi sebagai bahan bukti untuk menunjang pendapat kita. Garis besar kerangka karangan, serta kesimpulan-kesimpulan yang dibuat merupakan pendapat penulis sendiri, sebaliknya kutipan-kutipan hanya berfungsi sebagai bahan bukti untuk menunjang pendapatya itu.
2.   Jenis Kutipan
      Menurut jenisnya, kutipan dapat dibedakan atas kutipan langsung dan kutipan tidak langsung.
a.       Kutipan Langsung
        Kutipan langsung adalah kutipan yang ditulis sama persis dengan sumber aslinya, baik bahasa maupun ejaannya dengan tidak mengadakan perubahan sama sekali. Kutipan yang panjangnya kurang dari empat baris dimasukan ke dalam teks, diketik seperti ketikan teks, diawali dan diakhiri dengan tanda petik (“). Sumber rujukan ditulis langsung sebelum atau sesudah teks kutipan. Rujukan ditulis di antara tanda kurung, dimulai dengan nama akhir sebagaimana tercantum dalam daftar pustaka, tanda koma, tahun terbitan, titik dua, spasi, dan diakhiri dengan nomor halaman (Penulis, Tahun: Halaman). Kutipan yang terdiri dari empat baris atau lebih, diketik satu spasi, dimulai dengan tujuh ketukan dari batas tepi kiri. Sumber rujukan ditulis langsung sebelum teks kutipan.
        Contoh kutipan langsung:
         Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara (Keraf, 1983: 3).
b.      Kutipan Tidak Langsung
Kutipan tidak langsung adalah kutipan yang tidak sama persis dengan aslinya. Pengutip hanya mengambil pokok pikiran dari sumber yang dikutip untuk dinyatakan kembali dengan kalimat yang disusun oleh pengutip. Kalimat-kalimat yang mengandungkutipan ide tersebut ditulis dengan spasi rangkap sebagaimana teks biasa. Semua kutipan harus dirujuk. Sumber rujukan dapat ditulis sebelum atau sesudah kalimat-kalimat yang mengandung kutipan. Apabila ditulis sebelum teks kutipan, nama akhir sebagaimana tercantum dalam daftar pustaka masuk ke dalam teks, diikuti dengan tahun terbitan di antara tanda kurung. Apabila ditulis sesudah teks kutipan, rujukan ditulis di antara tanda kurung, dimulai dengan nama akhir sebagaimana tercantum dalam daftar pustaka, titik dua, dan diakhiri dengan tahun terbitan.
Contoh kutipan tidak langsung:
Seperti dikatakan oleh Gorys Keraf (1983:3) bahwa argumentasi pada dasarnya tulisan yang bertujuan mempengaruhi keyakinan pembaca agar yakin akan pendapat penulis bahkan mau melakukan apa yang dikatakan penulis.
3.   Prinsip-Prinsip Mengutip
      Beberapa prinsip yang harus diperhatikan pada waktu membuat kutipan adalah:
a.       Jangan mengadakan perubahan
          Pada waktu melakukan kutipan langsung, pengarang tidak boleh mengubah kata-kata atau teknik dari teks aslinya. Bila pengarang menganggap perlu untuk mengadakan perubahan tekniknya, maka ia harus menyatakan atau memberi keterangan yang jelas bahwa telah diadakan perubahan tertentu. Dalam hal demikian penulis harus memberi keterangan keterangan dalam tanda kurung segi bahwa perubahan teknik itu dibuat sendiri oleh penulis, dan tidak ada dalam teks aslinya. Keterangan dalam kurung misalnya berbunyi sebagai berikut: (garis bawah oleh penulis).
b.        Bila ada kesalahan
         Bila dalam kutipan terdapat kesalahan atau keganjilan, entah dalam persoalan ejaan maupun dalan soal-soal ketatabahasaan, penulis tidak boleh memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Ia hanya mengutip sebagaimana adanya. Demikian pula halnya kalau penulis tidak setuju dengan satu bagian dari kuitpan itu. Dapat diyatakan dengan menuliskan simbol (sic!) langsung setelah kesalahan tersebut.
         Perhatikan contoh berikut:
                “Demikian juga dengan data bahasa yang lain dalam karya tulis ini kami selalu berusaha mencari bentuk kata yang mengandung makan (sic!) sentral/distribusi yang terbanyak sebagai bahan daftar Swadesh.”
         Kata makan dalam kutipan di atas sebenarnya salah cetak, yang seharusnya makna. Namun dalam kutipan, penulis tidak boleh langsung memperbaiki kesalahan itu.
         Untuk karya-karya ilmiah penggunaan (sic!) yang ditempatkan langsung di belakang kata atau bagian yang bersangkutan, dirasakan lebih mantap.
c.         Menghilangkan bagian kutipan
         Dalam kutipan-kutipan diperkenankan pula menghilangkan bagian-bagian tertentu dengan syarat bahwa penghilangan bagian itu tidak boleh mengakibatkan perubahan makna aslinya atau makna keseluruhannya. Penghilangan itu biasanya dinyatakan dengan mempergunakan tiga titik berspasi (. . .). jika unsur yang dihilangkan itu terdapat pada akhir sebuah kalimat, maka ketiga titik berspasi itu ditambahkan sesudah titik yang mengakhiri kalimat itu. Bila bagian yang dihilangkan itu terdiri dari satu alinea atau lebih, maka biasanya dinyatakan dengan titik-titik berspasi sepanjang satu baris halaman.
                  Contoh:
. . . Akan tetapi komunikasi dalam iklan bersifat khusus. Iklan peda prinsipnya adalah “komunikasi nonproposal yang dibayar oleh sponsor yang menggunakan media massa untuk membujuk dan mempengaruhi khalayaknya” (Wells, 1992:10). . . . Segi nonpersonal itu membedakan iklan dari promosi. .................................................................................................................................
...............................................................................................................................................
Dari definisi tersebut dapat ditarik empat kata kunci yaitu, soponsor, pesan, media, dan sasaran.
4.   Cara-Cara Mengutip
      Perbedaan antara kutipan langsung dan kutipan tidak langsung akan membawa akibat yang berlainan pada saat memasukannya dalam teks. Begitu pula cara membuat kutipan langsung akan berbeda pula menurut panjang pendeknya kutipan itu. Agar tiap-tiap jenis kutipan dapat dipahami dengan lebih jelas, perhatikanlah cara-cara berikut:
a.      Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris
        Sebuah kutipan langsung yang panjangya tidak lebih dari empat baris ketikan, akan dimasukkan dalam teks dengan cara-cara berikut:
1)      Kutipan itu diintegrasikan langsung dengan teks;
2)      Jarak antara baris dengan baris dua spasi;
3)      Kutipan itu diapit dengan tanda kutip;
4)      Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas, atau dalam kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan itu.
b.      Kutipan langsung yang lebih dari empat baris
        Bila sebuah kutipan terdiri dari lima baris atau lebih, maka seluruh kutipan itu harus digarap sebagai berikut:
1)      Kutipan itu dipisahkan dari teks dalam jarak 2,5 spasi;
2)      Jarak antara baris dengan baris kutipan satu spasi;
3)      Kutipan itu boleh atau tidak diapit dengan tanda kutip;
4)      Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi keatas, atau dalam kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan itu;
5)      Seluruh kutipan itu dimasukan ke dalam 5-7 katikan, bila kutipan itu dimulai dengan alinea baru, maka baris pertama dari kutipan itu dimasukan lagi 5-7 ketikan.
          Kadang-kadang terjadi bahwa dalam kutipan itu terdapat lagi kutipan. Dalam hal ini ditempuh dua cara:
1)      Mempergunakan tanda kutip ganda (“. . .”) bagi kutipan asli dan tanda kutip tunggal (‘. . .’) bagi kutipan dalam kutipan itu, atau sebaliknya;
2)      Bagi kutipan asli tidak dipergunakan tanda kutip, sedangkan kutipan dalam kutipan itu mempergunakan tanda kutip ganda.

c.       Kutipan tidak langsung
        Dalam kutipan tidak langsung biasanya inti atau seri pendapat itu yang dikemukakan. Sebab itu kutipan itu tidak boleh mempergunakan tanda kutip. Beberapa syarat harus diperhatikan untuk membuat kutipan tidak langsung:
1)      Kutipan itu diintegrasikan dengan teks;
2)      Jarak antar baris dua spasi;
3)      Kutipan tidak diapit dengan tanda kutip;
4)      Sesudah kutipan selesai deberi nomor urut penunjukan setengah spesi ke atas, atau dalam kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman terdapat kutipan itu.

d.      Kutipan atas ucapan lisan
        Dalam karya-karya ilmiah atau tulisan-tulisan lainnya, sering pula dibuat kutipan-kutipan atas ucapan lisan, entah yang diberikan dalam ceramah-ceramah, kuliah-kuliah atau wawancara-wawancara. Sebenarnya kutipan atas sumber semacam ini sulit dipercaya, kecuali mingkin ucapan yang disampaikan seorang tokoh yang penting dalam suatu kesempatan yang luar biasa, serta dapat diikuti oleh masyarakat luas .
C.      FOOTNOTES, BODYNOTES DAN ENDNOTES
1.       Footnotes
Footnotes adalah catatan pada kaki halaman untuk menyatakan sumber suatu kutipan, pendapat, buah pikiran fakta-fakta atau ikhtisar. Footnotes dapat juga berisi komentar mengenai suatu hal yang di kemukakan di dalam teks. Nomor footnotes  atau catatan kaki diberi nomor sesuai dengan nomor kutipan dalam tiap bab dimulai dengan nomor satu.
Bentuk footnotes atau catatan kaki didalamanya harus dicantumkan nama pengarang, nama buku, nomor jilid, nama penerbit, tempat dan tahun penerbitan, halaman-halaman yang dikutip atau yang berkenaan dengan teks.
Footnotes ini ada seluk beluknya. Walaupun pada garis besarnya sama, ada pula perbedaannya yang perlu dibicarakan dan diperhatikan. Di bawah ini akan kita bicarakan bentuk footnotes untuk sumber-sumber yang berikut:
a.    Buku
Contoh :

1 Harold Alberty, Reorganizing the High School Curriculum, The MacMillan Company, New York, 1953, h. 78.

2 Harun Nawawi, Mengukur Tanah dan Menyipat Tanah, H. Stam, Jakrta, 1953, h. 25

Pada contoh-contoh footnotes yang di atas kita lihat berturut-turut
1)      Nomor footnotes, agak diangkat sedikit di atas baris biasa, tetapi tidak sampai setinggi satu spasi. Nomor itu jauhnya tujuh pukulan tik dari garis margin teks, yakni sama dengan permulaan alinea baru. Kalau suatu footnotes, terdiri dari lebih dua baris, maka baris kedua dan selanjutnya dimulai pada garis margin teks biasa.
2)      Nama pengarang menurut urutan namanya yang sewajarnya, yakni nama kecil atau inisialnya dan nama akhirnya. Pangkat atau gelar seperti, Prof., dr., Mr., dan sebagainya tidak usah di cantumkan. Kalau pengarang memakai nama samara, di antara tanda kurung besar kita cantumkan nama yang sebenarnya. Contoh
3 Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), Sejarah Ummat Islam, Penerbit Islamiyah, Medan, 1950, h. 47.
3)      Nama buku, diberi bergaris (dalam buku ini cetak miring)
4)      Keterangan-keterangan mengenai penerbit: nama, tempat dan tahun penerbitan.
5)      Nomor halaman yang bersangkutan.
Footnotes berhubungan dengan jumlah pengarang.
a)      Pengarang: seorang Contoh (lihat di atas)
b)      Pengrang: dua atau tiga orang. Nama pengarang harus dicantumkan seluruhnya. Contoh:
4 Robert. S. woodworth dan Donald G. marquis, Psychology, Henry Holt and company, New York, 1947. h. 56.
5 LCT Bigot, Ph. Kohnstamm, B.G palland, Leerboek der Psycholigie, J.b wolters, Groningen, 1949.h. 44.
c)       Pengarang: lebih dari tiga orang. Dicantumkan hanya nama pengarang pertama dan di belakangnya di tulis “et al”, asal daeri et alii artinya “dengan orang lain”. Contoh:

6 Florence B. Stratemeyer, (et al), Developing a Curriculum for Modern Living, Bureau of Publications Teacher College, Columbia University, New York, 1975, h. 56 – 149.
d)      Kumpulan karangan. Yang dicantumkan nama editornya saja, di belakangnya (ed). Contoh:
7 Donald P. Cottrell (ed), Teacher education for a Free People, The American Association of Colleges for Teacher education, New York, 1956, h. 220.
e)      Tidak ada pengarang tertentu. Sebagai pengarang disebut nama badan, lembaga, perkumpulan, peusahaan, Negara, dan sebagainya, yang menerbitkannya. Contoh:
8 Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru, Large Scale Teachers Training, Nix and company, Bandung, 1953, h. 17.
f)       Buku yang di terjemahkan. Yang dicantumkan tetap nama pengarang aslinya, dan di belakang nama penerjemahnya. Contoh:
9 Karl Barth, The Doctrine of the World of God, Terjemahan G.T. Thompson. Charles Seribner’s Sons, New York, 1939, h 23.

b.    Majalah
Contoh:
10 Mochtar Naim, “Mengapa Orang Minang Merantau?” Tempo , 31 Januari 1975, h. 36.
11  L.J wetwood, “The role of the Teacher”, Education Research IX no. 2 Februari 1976, h.70.
Di sini kita  lihat berturut-turut:
1)      Nama pengarang, seperti pada buku
2)      Judul karangan, di antara tanda kutip
3)      Nama majalah, diberi bergaris (dalam buku ini setak miring)
4)      Nomor majalah, dengan angka romawi (kalau ada)
5)      Bulan dan tahun penerbitan
6)      Nomor halaman yang berdangkutan.
kalau tidak diketahui pengarang suatu artikel dalam majalah, maka nama pengarang didiadakan, jadi footnotes dimulai dengan judul karangan. Contoh:
12 “Sekolah Percobaan di Yogyakarta,” Suara Guru II, September 1957, h. 18-19-21.
c.     Surat kabar
Contoh :
13 Pikiran Rakyat, 25 Januari 1977, h. 2

d.    Karangan yang tidak diterbitkan, seperti tesis, disertasi
Contoh:
14 A.H. Daeng Marimba, “Sutu Tinjauan Psikologis mengenai Hubungan Sosial di ‘Tambatan Hati’ dan Pengaruhnya Terhadap Sikap Sosial Anak”, Tesis Sarjana Pendidikan, Pepustakaan IKIP Bandung, h. 17.

e.    Interview
Contoh:
15 Wawancara dengan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 8 April 1977.

f.      Ensiklopedi
(a)    Nama pengarang diketahui
16 E.e. kellet, ‘Spinozoa”, Encyclopedia of Religions and Ethics XI 1921, h. 251.
(b)   Nama pengarang tidak diketahui
17Katalisator”, ensiklopedia Indonesia I.

g.     Bahan yang dikutip
18 William H. Burton. The Guidance of Learning Activities, D. Appleton-Century Company, Inc., New York, 1952, h. 186, dikutip dari Ernest Hilgard, Theories of Learning, Appleton, New York, 1948, h. 37.

Bila sumber yang sama diacu lagi, catatan untuk pengacuan kedua dan seterusnya dilakukan dengan tanda-tanda tertentu
a.        Tanda ibid. (berasal dari kata ibidem yang berarti ‘di tempat yang sama’) Singkatan ini digunakan apabila referensi dalam catatan kaki nomor tersebut sama dengan referensi pada nomor sebelumnya (tanpa diselingi catatan kaki lain). Apabila halamannya sama, cukup ditulis Ibid., bila halamannya berbeda, setelah Ibid. dituliskan nomor halamannya.
b.      Tanda op. cit. (singkatan dari kata Latin opere citato yang berarti pada karya yang diacu) menandai pengacuan pada karya yang sama seperti yang diacu sebelumnya tetapi pada halaman lain. Singkatan ini digunakan apabila referensi dalam catatan kaki pada nomor tersebut sama dengan referensi yang telah dikutip sebelumnya, namun diselingi catatan kaki lain. Op.Cit. khusus digunakan bagi referensi yang berupa buku.
c.       Tanda loc. cit. (singkatan dari kata Latin loco citato yang berarti di tempat diacu) menunjukkan pengacuan pada halaman yang sama dengan yang diacu sebelumnya yang mungkin diselang oleh pengacuan pada sumber rujukan lain. Singkatan ini digunakan sama dengan Op.Cit., yaitu apabila referensi dalam catatan kaki pada nomor tersebut sama dengan referensi yang telah dikutip sebelumnya, namun diselingi catatan kaki lain. Namun, referensi yang diacu Loc.Cit. bukan berupa buku, melainkan artikel, baik itu dari koran, majalah, ensiklopedi, internet, atau lainnya.

contoh:



Text Box: 1 Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000), hal. 45.
2 Ibid. 
3 Ibid., hal. 55.
4 Dedy N. Hidayat, "Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi," Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia,  No. 2 (Oktober, 1998), hal. 25-26.
5 Ibid., hal. 28.
6  Arthur Asa Berger, Op.Cit., hal. 70.
7 Hubert L. Dreyfus, Paul Rabinow, Beyond Structuralism and Hermeneutics (Chicago: University of Chicago Press, 1982), hal. 72 - 76.
8 Francis Fukuyama, “Benturan Islam dan Modernitas,” Koran Tempo, 22 November, 2001, hal. 45.
9 Robert McChesney, “Rich Media Poor Democracy,” www.thirdworldtraveler.com/Robert_McChesney_page.html (akses 16 Agustus 2006).
10 Arthur Asa Berger, Op.Cit., hal. 96.
11 Ibid., hal. 99.
12 Ibid.
13 Dedy N. Hidayat, Loc.Cit., hal. 22.
14 Francis Fukuyama, Loc.Cit.
15 Hubert L. Dreyfus, Paul Rabinow, Op.Cit., 58.
16 Dedy N. Hidayat, Loc.Cit., hal. 21.





















2.      Bodynotes

Dilakukan ketika penulis mencantumkan sumber kutipan langsung setelah selesainya sebuah kutipan dengan menggunakan tanda kurung. Sebuah tulisan ilmiah harus menggunakan salah satu jenis penulisan referensi tersebut, serta harus konsisten dengan jenis tersebut. Artinya, ketika sebuah tulisan menggunakan bodynote, maka seluruh referensi dari awal hingga akhir tulisan harus menggunakan bodynote. Atau, jika seorang penulis menggunakan catatan kaki, sejak awal hingga akhir tulisan, penulis harus menggunakan catatan kaki untuk menuliskan referensinya.
Kelebihan catatan tubuh adalah kemudahan bagi pembaca dalam mengecek sumber sebuah kutipan yang langsung terdapat sebelum atau setelah kutipan tersebut, tanpa perlu berpindah ke bagian bawah halaman.
Prinsip-prinsip dalam menuliskan catatan tubuh:
a.    Catatan tubuh menyatu dengan naskah, hanya ditandai dengan kurung buka dan kurung tutup.
b.    Catatan tubuh memuat nama belakang penulis, tahun terbit buku dan halaman yang dikutip. Contoh:
1)    Nama penulis adalah Arthur Asa Berger, maka cukup ditulis Berger.
2)    Nama penulis Jalaluddin Rakhmat, maka cukup ditulis Rakhmat.
c.     Terdapat dua cara menuliskan catatan tubuh:
1)    Nama penulis, tahun terbit dan halaman berada dalam tanda kurung, ditempatkan setelah selesainya sebuah kutipan. Jika kutipan ini merupakan akhir kalimat, maka tanda titik ditempatkan setelah kurung tutup catatan tubuh. Contoh:
Di titik inilah esensi hegemoni: hubungan di antara agen-agen utama yang menjadi alat sosialisasi dan orientasi ideologis, yang berinteraksi, kumulatif, dan diterima oleh masyarakat (Lull, 1995: 31-38).
2)    Nama penulis menyatu dalam naskah tulisan, tidak berada dalam tanda kurung, sementara tahun penerbitan dan halaman berada dalam tanda kurung. Model ini biasanya ditempatkan sebelum sebuah kutipan. Contoh:
Menurut Lull (1995: 31-38), di titik inilah esensi hegemoni: hubungan di antara agen-agen utama yang menjadi alat sosialisasi dan orientasi ideologis, yang berinteraksi, kumulatif, dan diterima oleh masyarakat.
3.      Endnotes
Catatan Akhir adalah sistem pengacuan dengan cara menempatkan informasi tentang identitas lengkap suatu sumber rujukan di bagian akhir sebuah artikel. Endnote adalah catatan akhir, yakni referensi yang diletakkan di akhir suatu karya ilmiah, sebelum Daftar Pustaka.
Dalam program komputer, cara pembuatan endnote persis sama dengan footnote, hanya
letaknya saja yang harus diset di akhir karya ilmiah. Ketentuan‐ketentuan yang berlaku untuk footnote, juga berlaku untuk endnote, termasuk ketentuan untuk Daftar Pustaka.

D.        Daftar Pustaka
Istilah daftar pustaka, sering dianggap sama dengan bibliografi (biblioghraphy), referensi (referency), tau kepustakaan. Yang dimaksud dengan bibliografi atau daftar pustaka adalah sebuah daftar yang berisi kumpulan-kumpulan sumber bacaan atau sumber referensi karangan ilmiah  yang tengah digarap, yang  terdiri atas judul buku-buku, artikel-artikel, dan bahan-bahan penerbitan lainnya. Daftar pustaka merupakan suatu hal yang sangat penting dan disertakan pada akhir sebuah karangan ilmiah. Kegunaan daftar pustaka ialah sebagai pelengkap dari sebuah catatan kaki, dalam daftar pustakalah pembaca dapat mengetahui keterangan-keterangan yang lenkap mengenai buku atau majalah yang menjadi sumber bacaannya.
1.         Cara Penulisan Daftar Pustaka
a.    Tulis  tajuk daftar pustaka dengan menggunakan huruf  kapital dibagian tengah atas.
b.    Gunakan alinea menggantung atau menonjol.
c.     Jarak spasi setiap baris dalam sumber bacaan adalah satu spasi sedangkan jarak antara sumber bacaan yang satu dengan yang lainnya  adalah satu setengah spasi.
d.    Urutkansusunan daftar pustaka berdasarkan urutan abjad nama belakang penulis, atau nama lembaga yang menebitkan sumber bacaan, bukan berdasarkan urutan angka atau huruf.
e.    Gelar tidak dicantumkan.

2.         Unsur-unsur Daftar Pustaka
a.    Nama pengarang, yang dikutip secara lengkap.
b.    Judul buku, termasuk judul tambahannya.
c.     Data publikasi : penerbit, tempat terbit, tahun terbit, cetakan berapa, nomor jilid, dan tebal (jumlah halaman) buku tersebut
d.    Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel yang bersangkutan, nama majalah, jilid, nomordan tahun.




Text Box: DAFTAR  PUSTAKA
Penulis. Tahun. Judul Buku. Tempat: Penerbit.
Penulis. Tahun. “Judul Artikel”. Dalam Nama Srat Kabar.Tanggal. Tempat.
Penulis. Tahun. “Judul Artikel”. Dalam Nama Majalah. Edisi/Nomor(angka romawi)/Tanggal.                          
Tempat.
Penulis. Tahun. “Judul Artikel”. Dalam Nama Antologi. Tempat: Penerbit.
Penulis. Tahun. “Judul Artikel”. Dalam Alamat Website.
Penulis. Tahun. “Judul Makalah”. Data Publikasi. Tempat.
Penulis. Tahun. “Judul Laporan Tugas Akhir”. Laporan. Tempat: Nama Perguruan Tinggi.
Penulis. Tahun. “Judu; Skripsi/Tesis/Disertasi”. Bentuk Karangan. Tempat: Nama Perguruan                                             
               Tinggi.
 








3.         Keterangan Lain tentang Daftar Pustaka
a.    Penulis
Jika sebuah sumber bacaan ditulis oleh pengarang yang memiliki nama tiga unsur, seperti Romeo Andromeda Primakusuma, maka cara mencantum dalam daftar pustaka yaitu :
Primakusuma, Romeo Andromeda
Kadang-kadang sebuah buku tidak mencantumkan nama penulisnya. Jika itu terjadi, cantumkan nama lembaga yang menerbitkan buku tersebut. Sebagai contoh: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa menerbitkan Kamus Istilah Ekonomi  pada 2005 di Jakarta. Cara penulisan dlam daftra pustaka adalah
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2005. Kamus Istilah Ekonomi. Jakarta.
Atau jika mengambil dari surat kabar atau majalah , cara penulisannya


Text Box: Kompas. 2006. “Pesona Negeri Singan di Penghujung Tahun”. 8 November. Jakarta.
Femina. 1999. “Manakah Tipe Cinta Anda”. Nomor 18/ XXXVII, Mei. Jakarta.




Jika mengambil sumber bacaan dari beberapa buku dan pengarang yang sama, buatlah garis di bagian nama penulis.


Text Box: Keraf, Gorys. 1980. Komposisi, Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah.
                      . 1981. Diksi dan Gaya Bahasa. Ende: Nusa Indah.
                      . 1985. Eksposisi dan Deskripsi. Ende: Nusa Indah.
                     . 2003.  Argumentasi dan narasi. Jakarta: Gramedia.





Selanjutnya, jika nama pengarang dua atau tiga orang, cara pencantumannya dalam daftar pustaka yaitu nama pengarang pertama dibalik dan di ikuti lambing ‘&’ (dan) diikuti nama pengarang yang kedua dan ketiga, tanpa membalik namanya. Jika nama pengarang lebih dari tiga orang, tulislah dkk. (dan kawan-kawan) di belakang nama penulis pertama. Contoh :


Text Box: Arifin, Zaenal dan S. Araman Tasai. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika  
Pressindo.
Luxemburg, Jan Van dkk. 1989. Tentang Sastra. Terjemahan Achadiati Ikram. Jakarta:
Indonesia.





b.    Tahun
Penulisan tahun terbit dicantumkan setelah nama penulis dan diakhiri tanda titik. Masalah yang timbul biasanya ketika mengambil beberapa sumber buku dari pengarang dan tahun yang sama. Tulislah huruf (a) di belakang tahun yang terbitannya lebih dahulu dan tulislah huruf (b), (c) dan seterusnya di belakang tahun yang terbit tekahir. Pencantuman  huruf di belakang tahun ini berfungsi untuk memudahkan perujukan dalam innote.  Contoh :


Text Box: 1.4 Pendekatan Penelitian 
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adlah sosiologi sastra. Menurut Sapardi Djoko Damono (1987a: 1), sosiologi sastra adalah ilmu yang membahas hubungan antara pengarang, masyarakat dan karya sastra. Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa memalui soaiologi sastra kita dapat menganalisis ‘Apakah latar belakang social pengarang  menetukan isi karangan? Apakah dalam karya-karyanya pengarang mewakili golongannya? Apakah ….
(Damono,1987b:14)’








Ketika kita akan mengetahui secara lengkap sumber bacaan yang digunakan pada kutipan tersebut, kita akan mengalami kesulitan jika tidak tercantum huruf a dan b. apakah kedua kutipan tersebut berasal dari buku yang sama atau berbeda. Untuk lebih jelasnya, kita dapat melihatnya di dalam daftar pustaka.


Text Box: Damono, Sapardi Djoko. 1987a. Sosiologi Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
                                          .1987b. “Catatan Kecil tentang Aspek Rekreaitif 
Sastra Populer”. Makalah. Yogyakarta.





Kemudian, jika kita mengambil beberapa sumber bacaan dari pengarang yang sama dengan tahun yang berbeda-beda, urut, urutkan berdasarkan tahun yang terdahulu dan ikuti dengan sumber bacaan yang tahun terbitnya tekahir, contoh:


Text Box: Teeuw, A. 1953. Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru. Jakrta: Jajasan  
Pembangunan
                     . 1983. Menilai dan Membaca Sastra. Jakarta: Gramedia.
                     . 1988. Sastra dan Ilmu sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
                     . 1989. Sastra Indonesia Modern II. Jakarta: Pustaka Jaya.






Selanjutnya, jika sumber bacaan tidak mencantumakan tahun terbit, tulislah frase tanpa tahun dan di akhiri dengan tanda titik.
Text Box: Herintianto, Indra. Tanpa Tahun. Bangkitnya Wanita Perkasa dalam Perempuan di Titik 
Nol. Bandung: Karina Widya Loka.
Mulyana, Adang. Tanpa Tahun. Perempuan Biasa. Surabaya: Atiek Jaya.
 



c.     Judul
Cara penulisan buku, surat kabar, majalah, antologi, dan website internet menggunakan huruf miring jika memakai komputer dan menggunakan huruf tegak dan garis bawahjika memakai mesin tik atau tulisan tangan, sedangkan judul artikel, makalah, laporan tugas akhir, skripsi, tesis, dan disertasi ditulis dengan menggunakan yanda petik(“…”).



Text Box: Damono, Sapardi Djoko. 1993. “Pembicaraan Awal tentang Sastra Populer”. Makalah 
pada Musyawarah Nasional III dan Pertemuan Ilmiah VI HISKI di Yogyakarta.
                                          . 2002. “ Ke Manakah Perkembangan Sastra Kita?”. Dalam 
http://www.bahasasastra.web.id/sapardi.asp
Danajaya. 2000. “Roman Pitjisan”. Dalam E. Ulrich Kartz. Sejarah Sastra Indonesia Abad
XX. Antologi. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, Yayasan adikarya IKAPI & The Ford Foundation.
Ekowati, Dede. 2006. “Analisis Rasio Terhadap Laporan Keuangan PT Kalbefarma, Tbk”. 
Laporan Tugas Akhir. Bekasi: Akademi Bina Insani.
Mediayawati, Ninik. 1995. “Analisis structural Cerpen –cerpen Lupus  Karangan Hilman 
Hariwijaya dan Kemungkinannya sebagai Bahan Penganjaran Sastra di SMU”. Skripsi. Yogyakarta: FPBS IKIP Yogyakarta.
Keraf, Gorys. 1978. “Morfologi Diealek Lamalera”. Disertasi. Jakarta: Universitas 
Indonesia.












BAB III
KESIMPULAN

Notasi ilmiah adalah catatan pendek untuk mengetahui sumber informasi ilmiah yang dikutip dalam dalam satu karya ilmiah. Karena catatan tersebut diletakan di bagian bawah halaman maka sering disebut catatan kaki atau footnote.
Pembuatan notasi ilmiah mencakup pembuatan kutipan, catatan kaki, dan daftar pustaka.


















DAFTAR PUSTAKA

Fitriyah, Mahmudah Z. A. & Ramlan Adbul Gani. 2007.” Pembinaan Bahasa  Indonesia”. Jakarta: Universitas Islam Negeri Pers
Keraf, Gorys.  1994.  “Komposisi Sebuah Pengantar Kemarihan Bahasa”. Ende : Nusa Indah
Kuntarto, Ninik M. 2010. “Cermat dalam Berbahasa Teliti dalam Berpikir”. Jakarta: Mitra Wacana Media
http://fauzi.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2011/10/teknik-penulisan-referensi.pdf

Panduan Menulis Daftar Pustaka yang Baik dan Benar

Kalau anda sedang menjalani Tugas akhir suatu sekolah, baik itu Sekolah menegah ataupun di perguruan tinggi pasti anda kan bergelut dengan buku sebagai referensi anda untuk menulis karangan ilmiah, skripsi ataupun tesis. Dan daftar pustaka wajib anda tulis sebagai bahan pustaka. Bahan pustaka tersebut dapat berupa buku cetak, karangan atau tulisan ilmiah milik orang lain, materi seminar atau workshop, artikel-artikel dari internet dan lain sebagainya.
Ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan dalam penulisan daftar pustaka yaitu Anda harus memiliki data dari buku yang anda gunakan sebagai referensi meliputi nama pengarang, tahun buku itu dikarang, judul karangan, kota terbit dan penerbit karangan tersebut.

Berikut ini beberapa panduan untuk menulis daftar pustaka yang baik:

1. Nama penulis diurutkan sesuai alfabetis dari A-Z, nama pengarang yang ditulis lebih dahulu adalah nama belakang, jika ada nama atau buku asing maka sebaiknya didahulukan dulu untuk ditulis.

2. Beri Tanda titik sebagai jeda kemudian tulis tahun buku diterbitkan

3. Selanjutnya beri tanda titik lagi dan tulis judul buku yang dicetak miring atau ditulis tebal dan diberi garis bawah.

4. Beri tanda titik lagi kemudian tulis kota tempat buku diterbitkan.

5. Yang terakhir setelah kota beri titik dua dan tulis penerbit buku tersebut
6. Jika yang dipakai referensi pengarangnya sama tapi bukunya berbeda, anda dapat menuliskannya tepat dibawah nama penulis dan memberi garis panjang.

7. Sebaiknya dipisah antara referensi yang berasal dari buku, internet atau media cetak.

Contoh Penulisan Daftar Pustaka

1. Penulisan daftar pustaka yang pengambilan datanya dari internet


Pertama; tulis nama, 
Kedua; tulis (tahun buku atau tulisan dibuat dalam tanda kurung) setelah itu beri (tanda titik), 
Ketiga; tulis judul buku/tulisannya lalu beri (tanda titik) lagi, 
Keempat; tulis alamat websitenya gunakan kata (from) untuk awal judul web dll setelah itu beri tanda koma,
Kelima; tulis tanggal pengambilan data tersebut ok.
Seperti contoh dibawah ini:
· Albarda (2004). Strategi Implementasi TI untuk Tata Kelola Organisasi (IT Governance). From http://rachdian.com/index2.php?option=com_docman&task=doc_view&gid=27&Itemid=30, 3 August 2008

2. Penulisan daftar pustaka yang pengambilan datanya dari buku



Pertama; penulisan nama untuk awal menggunakan huruf besar terlebih dahulu setelah nama belakang ditulis beri (tanda koma), dimulai dari nama belakang lalu beri (tanda koma) dan dilanjutkan dengan nama depan, 

Kedua; Tahun pembuatan atau penerbitan buku, 

Ketiga; Judul bukunya ingat ditulis dengan mengunakan huruf miring setelah judul gunakan (tanda titik), 

Keempat; Tempat diterbitkannya setelah tempat penerbitan gunakan (tanda titik dua), 

Kelima; Penerbit buku tersebut diakhiri dengan (tanda titik).Seperti contoh dibawah ini:

· Peranginangin, Kasiman (2006). Aplikasi Web dengan PHP dan MySql. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset. · Soekirno, Harimurti ( 2005). Cara Mudah Menginstall Web Server Berbasis Windows Server 2003. Jakarta: Elex Media Komputindo.


3. Penulisan daftar pustaka yang lebih dari satu/dua orang penulis dalam buku yang sama. 

Pertama  tulis nama belakang dari penulis yang pertama setelah nama belakang beri (tanda koma) lalu tulis nama depan jika nama depan berupa singkatan tulis saja singkatan itu setelah nama pertama selesai beri (tanda titik) lalu beri (tanda koma) untuk nama kedua / ketiga ditulis sama seperti nama sali alis tidak ada perubahan, yang berubah penulisannya hanya orang pertama sedangkan orang kedua dan ketiga tetap. Setelah penulisan nama kedua selesai, nah jika tiga penulis gunakan tanda dan (&) pada nama terakhir begitupula jika penulisnya hanya dua orang saja, setelah penulisan nama selesai, 

Kedua; Tahun pembuatan atau cetakan buku tersebut dengan diawali [tanda kurung buka dan kurung tutup/ (  )] setelah itu beri (tanda titik). 

Ketiga; Judul buku atau karangan setelah itu beri (tanda koma) dan ditulis dengan huruf miring ok. 

Keempat; Yaitu penulisan tempat penerbitan/cetakan setelah itu beri (tanda titik dua : ) dan terakhir 

Kelima; Nama perusahaan penerbit buku atau tulisan tersebut dan diakhiri (tanda titik) ok.  Untuk gelar akademik tidak ditulis dalam penulisan daftar pustaka.Nah ini contohnya Seperti dibawah ini:
· Suteja, B.R., Sarapung, J.A, & Handaya, W.B.T. (2008). Memasuki Dunia E-Learning, Bandung: Penerbit Informatika.
· Whitten, J.L.,Bentley, L.D., Dittman, K.C. (2004). Systems Analysis and Design Methods. Indianapolis: McGraw-Hill Education.

4. Penulisan daftar pustaka Dengan Banyak Pengarang/Penulis


Jika dalam penulisan daftar pustaka memiliki banyak nama pengarang
Pertama;  Hanya nama pengarang pertama yang dicantumkan dengan susunan terbalik
Kedua; Untuk mengganti nama-nama pengarang lainnya gunakan singkatan et al yang artinya dan lain-lain
contoh penulisan banyak pengarang;
Morris, Alton C., et al. College English, the Firts Year. New York: Harcourt, Brace&World.Inc., 1964.

5. Penulisan daftar pustaka Untuk Buku hasil terjemahan


Untuk penulisan daftar pustaka dari buku-buku terjemahan cara penulisannya
Pertama; Nama pengarang asli yang diurutkan dalam urutan alfabetis
Kedua; Keterangan tentang penerjemah ditempatkan sesudah judul buku, dipisah dengan tanda koma, 
Contoh Penulisannya;
Multatuli. Max Havelaar, atau lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda, Terj. H.B Jasin, Jakarta: Djambatan, 1972

6. Penulisan Daftar Pustaka dari majalah, Jurnal 

Untuk penulisan daftar pustaka jurnal dan majalah Baca di Penulisan Daftar Pustaka Jurnal, koran dan majalah

Bagi anda yang sedang menulis suatu karangan ilmiah, baik itu tugas akhir, ataupun sejenis penelitian lainnya, jangan lupa untuk menulis daftar pustaka sesuai abjadnya (alfabetis) berdasarkan nama pengarangnya, jadi bisa tertata rapi, jadi begitulah penulisan Daftar Pustaka yang sesungguhnya. Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat buat teman-teman yang sedang mengerjakan tugas akhir. Tolong bantu share ya ke sosial media. Kalau anda share berarti anda sudah berbagi ilmu juga.

Referensi; 

Prof. DR, Gorys Keraf dalam Buku Komposisi
Rasyid Sartuni, SS., M.A Dalam buku Aplikasi Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi
Penomoran halaman pada halaman judul, halaman persetujuan pembimbing, halaman pengesahan, halaman pernyataan, halaman persembahan, halaman motto, halaman kata pengantar, halaman daftar isi, halaman daftar table, halaman daftar gambar, dan halaman abstrak menggunakan angka romawi kecil, ditulis di tengah bawah. Mulai dari bab pendahuluan, penomoran halaman menggunakan angka arab, ditulis di sudut kanan atas, kecuali dapa halaman bab. Nomor halaman pada bab ditulis di tengah bawah, berjarak dua spasi dari baris terakhir.

0 Response to "CONTOH PENULISAN DAFTAR PUSTAKA"

Post a Comment