PROPOSAL PENELITIAN AIR



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air). Kecepatan aliran air tanah ini secara alami sangatlah kecil yaitu berkisar antara 1,5 m/hari - 2 m/hari (Kashef, 1987 dan Verruijt, 1970). Air tanah pada umumnya jernih dan memiliki kualitas air yang konstan sepanjang waktu. Air tanah pada akuifer bebas kualitasnya dapat dipengaruhi oleh pembuangan sampah. Sampah yang membusuk akan mengalami dekomposisi dengan menguraikan zat organik menjadi materi lain seperti padatan total, Nitrogen organik, Nitrat, Phospor, Kalsium, Magnesium, Photasium, Sodium, Clorida, Sulfat, Besi dan lain-lain. Zat-zat ini akan larut ke dalam air sebagai air sampah (Leachate) dan akan meresap ke dalam tanah sehingga mencemari air tanah.
Penggunaan air tanah dalam kehidupan sehari-hari sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Begitupun dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di komplek reni jaya RT. 002 RW. 017, Pamulang Barat, Tangerang Selatan. Air tanah yang digunakan dialirkan dengan menggunakan 3 (tiga) pompa air dengan sumber yang sama yang dipakai secara bersama oleh 32 keluarga di kompleks tersebut. Penggunaan air tanah inipun tidak hanya untuk mencuci pakaian dan mandi saja tetapi juga untuk mencuci bahan makanan dan air minum. Inilah yang harus di waspadai karena pada saat hujan daerah kompleks reni jaya rawan bencana banjir terutama saat musim hujan. Hal tersebut dikarenakan adanya sungai yang biasanya meluap saat terjadi hujan.


1.2.PERUMUSAN MASALAH
Rumusan Masalah penelitian ini adalah :
Apakah terdapat cemaran seperti senyawa fosfat, ammonia, dan kadar logam besi (Fe), kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) serta parameter biologi dalam sampel air tanah di wilayah kompleks reni jaya RT. 002 RW. 017 yang melebihi batas standar yang sudah ditetapkan oleh dinas kesehatan yang terkait tentang syarat-syarat dan pengawasan Kualitas Air Minum.

1.3.BATASAN MASALAH
Penelitian ini hanya mencakup uji pH, fosfat, ammonia, sulfat, dan kadar logam besi (Fe), kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) serta parameter biologi seperti BOD, koloni E. Coli, dan lain-lain dalam wilayah kompleks reni jaya RT. 002 RW. 017 yang memakai air tanah dengan sumber yang sama.

1.4.TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk:
a.       Memahami dan dapat melakukan pengambilan sampel air untuk pengujian kualitas air.
b.      Menganalisis parameter fisika, kimia dan biologi serta membandingkannya dengan peraturan-peraturan pemerintah yang berlaku.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Air dan pencemaran air
Air merupakan suatu material yang memegang peranan penting. Dengan kata lain air tidak dapat dipisahkan dari setiap kehidupan mahluk hidup. Tidak ada satupun mahluk hidup didunia ini yang tidak membutuhkan air. Sel hidup misalnya, baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan, sebagian besar tersusun oleh air, yaitu lebih dari 75% isi sel dari tumbuh-tumbuhan dan lebih dari 67% isi sel hewan tersusun oleh air. (Wardana, 1995).
Setiap mahluk hidup memanfaatkan air tergantung kepada seberapa besar peranaan tersebut dalam menunjang kehidupannya. Oleh manusia air dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas hidup seperti untuk keperluan hidup sehari-hari, pertanian, industri dan kebutuhan lainnya.
Sejalan dengan kemajuan dan peningkatan taraf kehidupan, tidak bisa dihindari lagi adanya peningkatan jumlah kebutuhan air khususnya untuk keperluan rumah tangga, sehingga berbagai cara dan usaha yang telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut antara lain :
a.       Mencari sumber-sumber air baru dari tanah, danau, air sungai dan sebagainya
b.      Mengolah dan menawarkan air laut
c.       Mengolah dan memurnikan kembali air kotor yang ada di sungai yang umumnya tercemar.
Kehadiran zat-zat asing pada bahan air tidak dapat dielakkan lagi. Namun kehadiran zat-zat tersebut ada yang dilarang sama sekali dan ada pula yang dapat ditolerir asalkan masih dalam ambang batas-batas yang tidak melebihi kadar maksimum yang dianjurkan.
Dewasa ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian secara serius. Untuk mendapatkan air yang baik, sesuai dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari hasil kegiatan manusia, baik limbah dari kegiatan rumah tangga, limbah dari kegiatan industri dan kegiatan-kegiatan lainnya. Saat ini air sungai tidak dapat begitu saja digunakan. Mungkin tampaknya air tersebut masih kelihatan bersih, akan tetapi ternyata banyak mengandung kotoran yang dibuang manusia. Kotoran dapur, detergen, pestisida. Kotoran manusia dan sisa-sisa bahan kimia lainnya yang mengubah bau air tersebut. Pada prinsipnya sungai merupakan lingkungan alam yang banyak ditempati oleh organisme maupun mikroorganisme.
Pencemaran air merupakan bagian dari pencemaran lingkungan. Dalam Undang-Undang tahun 1997 telah ditetapkan bahwa pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi atau komponen lainnya oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak berfungsi lagi dengan peruntukannya.
Sesuai PP RI Nomor 82 Tahun 2001 disebutkan bahwa Baku Mutu Air adalah batas atau kadar mahluk hidup, zat, energi atau komponen lain yang ada atau harus ada dan atau macam unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air pada sumber air tertentu sesuai dengan peruntukannya. Sesuai peraturan ini, air yang dimaksud adalah semua air yang terdapat di dalam dan atau berasal dari sumber air, dan terdapat di atas permukaan tanah, tidak termasuk air laut dan air bawah tanah. Dalam PP RI Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, pasal 8 ayat 1 ditetapkan pengkelasan air sesuai dengan peruntukannya, yaitu :
1.      Kelas I : Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
2.      Kelas II : Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
3.       Kelas III : Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut
4.      Kelas IV : Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.



2.2.Sumber-sumber air bersih
Dalam memilih sumber air baku air bersih, maka harus diperhatikan persyaratan utama yang meliputi kualitas, kuantitas, kontinuitas dan biaya yang murah dalam proses pengambilan sampai pada proses pengolahannya. Beberapa sumber baku yang dapat digunakan untuk menyediakan air bersih dikelompokkan sebagai berikut :
a.       Air hujan
Air hujan disebut juga dengan air angkasa. Beberapa sifat kualitas dari air hujan adalah sebagai berikut :
1)      Pada saat uap air terkondensasi menjadi hujan, maka air hujan merupakan air murni ( H2O ), oleh karena itu air hujan yang jatuh ke bumi mengandung mineral relatif rendah yang bersifat lunak.
2)      Gas-gas yang ada di atmosfir umumnya larut dalam butir-butir air hujan terkontaminasi dengan gas seperti CO2, menjadi agresif. Air hujan yang bereaksi dengan gas SO2 dari daerah vulkanik atau daerah industri akan menghasilkan senyawa asam ( H2SO4 ), sehingga dikenal dengan “acid rain” yang bersifat asam yang agresif.
3)      Kontaminan lainnya adalah partikel padat seperti : debu, asap, partikel cair, mikroorganisme seperti virus dan bakteri.
Dari segi kuantitas air hujan tergantung pada tinggi rendahnya curah hujan, sehingga air hujan tidak bisa mencukupi persediaan air bersih karena jumlahnya fluktuatif. Begitu pula jika dilihat dari segi kontinuitasnya, air hujan tidak dapat digunakan secara terus menerus karena tergantung pada musim.
b.      Air permukaan
Air permukaan yang biasanya dimanfaatkan sebagai sumber penyediaan air bersih adalah :
a.       Air waduk ( berasal dari air hujan dan air sungai )
b.      Air sungai ( berasal dari air hujan dan mata air )
c.       Air danau ( berasal dari air hujan, air sungai atau mata air )

Pada umumnya air permukaan telah terkontaminasi oleh zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan, sehingga memerlukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi oleh masyarakat yang ada di Indonesia.
Menurut Ditjen. Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum, ( 1984 ). Sumber air terdiri dari :
a.       Air permukaan dengan tingkat kekeruhan tinggi
b.      Air permukaan dengan tingkat kekeruhan rendah sampai sedang
c.       Air permukaan dengan tingkat kekeruhan yang temporer
d.      Air permukaan dengan kandungan warna sedang sampai tinggi
e.       Air permukaan dengan tingkat kesadahan tinggi
f.       Air permukaan dengan tingkat kesadahan rendah
c.       Mata Air
Mata air adalah air tanah yang mengalir ke permukaan tanah secara alami karena adanya gaya gravitasi atau gaya tekanan tanah (BPP Kimpraswil, 2002; Wanielista, et all, 1990). Menurut Soetrisno (2004) penggunaan mata air sebagai sumber air bersih dapat dilakukan jika mata air tersebut dihasilkan dari aliran air di bawah tekanan hidrostatik sebagai akibat dari gaya gravitasi.
Dalam segi kualitas, mata air sangat baik bila dipakai sebagai air baku, karena berasal dari dalam tanah yang muncul ke permukaan tanah akibat tekanan, pada umumnya mata air cukup jernih dan tidak mengandung zat padat tersuspensi atau tumbuh-tumbuhan mati, karena mata air melalui proses penyaringan alami dimana lapisan tanah atau batuan menjadi media penyaring.
d.      Air tanah
Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air). Kecepatan aliran air tanah ini secara alami sangatlah kecil yaitu berkisar antara 1,5 m/hari - 2 m/hari (Kashef, 1987 dan Verruijt, 1970). Air tanah pada umumnya jernih dan memiliki kualitas air yang konstan sepanjang waktu. Air tanah pada akuifer bebas kualitasnya dapat dipengaruhi oleh pembuangan sampah. Sampah yang membusuk akan mengalami dekomposisi dengan menguraikan zat organik menjadi materi lain seperti padatan total, Nitrogen organik, Nitrat, Phospor, Kalsium, Magnesium, Photasium, Sodium, Clorida, Sulfat, Besi dan lain-lain. Zat-zat ini akan larut ke dalam air sebagai air sampah (Leachate) dan akan meresap ke dalam tanah sehingga mencemari air tanah.
e.       Air laut
Air laut memerlukan proses desalinasi (menghilangkan rasa asin) untuk menjadi air bersih ini merupakan proses yang mahal. Pemilihan sumber air tergantung dari, kualitas air baku, volume air yang tersedia, kontinuitas sumber, elevasi muka air sumber terhadap konsumen dan ketersediaan keuangan.
2.3.Parameter kualitas air
Untuk melihat kualitas perairan sungai atau danau harus ada parameter sebagai standar bahan pencemar dalam air dan sekaligus untuk menilai tingkat kualitas perairan sungai, baik yang berlaku secara nasional maupun internasional.
Di Indonesia standar ini telah ditetapkan dalam aturan-aturan tertentu baik peraturan pemerintah maupun dalam KEPMEN, yang menjadi acuan menentukan tingkat kualitas perairan yang dinilai dari berbagai parameter yang telah ditetapkan. Peraturan pemerintah RI. No. 20 tahun 1990 tentang pengendalian pencemaran air. Dalam peraturan ini telah diatur kriteria kualitas air menurut peruntukkan sebagai berikut :
Golongan A : Air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan  lebih dahulu.
Golongan B : Air yang dapat digunakan sebagai air baku minum.
Golongan C : Air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian dan dapat dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri, pembangkit listrik dan tenaga air.
a.       Menurut wardhana (1995), sifat-sifat fisik air yaitu
·         Warna
Bahan buangan dan air limbah dari kegiatan industri yang berupa bahan anorganik dan bahan organik seringkali dapat larut di dalam air. Apabila bahan buangan dan air limbah industri dapat larut dalam air maka akan terjadi perubahan warna air. Air dalam keadaan normal dan bersih tidak akan berwarna, sehingga tampak bening dan jernih.
Selain itu degradasi bahan buangan industri dapat pula menyebabkan terjadinya perubahan warna air. Tingkat pencemaran air tidak mutlak harus tergantung pada warna air, karena bahan buangan industri yang memberikan warna belum tentu lebih berbahaya dari bahan industri yang tidak memberikan warna. Seringkali zat-zat yang beracun justru terdapat di dalam bahan buangan industri yang tidak mengakibatkan perubahan warna pada air sehingga air tetap tampak jernih.
·         Kekeruhan
Kekeruhan air disebabkan adanya partikel-partikel lumpur maupun air buangan yang mengandung mikroorganisme non-patogen dalam jumlah yang banyak. Kekeruhan dapat diukur secara langsung dengan menggunakan alat “Turbidity Rod”. Kekeruhan dapat disebabkan oleh adanya bahan-bahan tersuspensi yang bervariasi dari ukuran koloid sampai disperse kasar yang berupa zat-zat organik maupun anorganik yang disebabkan oleh buangan industri baik yang sudah diolah maupun belum diolah.
·         Rasa dan bau
Bau yang keluar dari dalam air dapat langsung berasal dari bahan buangan atau air limbah dari kegiatan industri atau dapat pula berasal dari hasil degradasi bahan buangan oleh mikroba yang hidup di dalam air. Bahan buangan industri yang bersifat organik atau bahan buangan dan air limbah dari kegiatan industri pengolahan bahan makanan seringkali menimbulkan bau yang sangat menyengat hidung.Timbulnya bau pada air lingkungan secara mutlak dapat dipakai sebagai salah satu tanda terjadinya tingkat pencemaran air yang cukup tinggi.
Air normal yang dapat digunakan untuk suatu kehidupan pada umumnya tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa. Apabila air mempunyai rasa (kecuali air laut) maka hal itu berarti telah terjadi pelarutan sejenis garam-garaman. Air yang mempunyai rasa biasanya berasal dari garam-garam yang terlarut. Bila hal ini terjadi maka berarti juga telah ada pelarutan ion-ion logam yang dapat mengubah konsentrasi ion hidrogen dalam air. Adanya rasa pada air umumnya diikuti pula dengan perubahan pH pada air.
b.      Menurut wardhana (1995), sifat-sifat kimia air yaitu:
·         Perubahan pH atau konsentrasi ion hydrogen
Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH berkisar antara 6,5-7,5. Air dapat bersifat asam atau basa, tergantung pada besar kecilnya pH air atau besarnya konsentrasi ion hidrogen di dalam air. Air yang mempunyai pH lebih kecil dari pH normal akan bersifat asam, sedangkan air yang mempunyai pH lebih besar dari normal akan bersifat basa. Air limbah dan bahan buangan dari kegiatan industri yang dibuang ke sungai akan mengubah pH air yang pada akhirnya dapat mengganggu kehidupan organisme di dalam air.
·         Oksigen
Oksigen merupakan unsur kimia yang penting bagi organisme yang keberadaannya diperairan dapat diukur dengan uji BOD (Biochemical Oxygen Demand). BOD merupakan uji yang paling berguna dan sensitif untuk mendeteksi dan mengukur pencemaran organik. Selain itu juga untuk melihat kandungan oksigen yang terlarut dalam air dapat ditentukan juga dengan uji COD (Chemical Oxygen Demand) atau kebutuhan oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam air.
c.       Menurut wardhana (1995), sifat-sifat biologi air yaitu:
·         Mikroorganisme
Mikroorganisme sangat berperan dalam proses degradasi bahan buangan dari kegiatan industri yang dibuang ke air lingkungan, baik sungai, danau maupun laut. Kalau bahan buangan yang harus didegradasi cukup banyak, berarti mikroorganisme akan ikut berkembang biak. Pada pengembang-biakan mikroorganisme ini tidak tertutup kemungkinan bahwa mikroba patogen ikut berkembang pula. Mikroba patogen adalah penyebab timbulnya industri pengolahan bahan makanan berpotensi untuk menyebabkan berkembang biaknya mikroorganisme, termasuk mikroba patogen.

2.4.Spektrofotometri
Spektrofotometri adalah suatu cara analisa yang mencakup pengukuran absorbsi oleh senyawa kimia dengan panjang gelombang tertentu menggunakan radiasi monokromatik. Radiasi monokromatik adalah radiasi dari satu panjang gelombang. Di dalam praktek radiasi monokromatik dihasilkan dengan gelombang prisma difraksi kiri yang memiliki panjang gelombang lebih dari satu. Biasanya ruang spektra di isolasi di dalam spektrofotometri.
a.       Spektrofotometer UV-Visible
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitans dan absorbans suatu contoh sebagai fungsi panjang gelombang. Penggunaan absorbansi atau transmitansi dalam spektrofotometer UV-VIS dapat digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif spesies kimia ( Khopkar, 2002). Pengukuran terhadap suatu deretan contoh pada suatu panjang gelombang tunggal mungkin juga dapat dilakukan. Alat-alat demikian dapat dikelompokkan baik sebagai manual, perekam maupun sinar tunggal atau sinar rangkap. Berikut ini diagram sederhana dari spektrofotometer :
diagram-spektrofotometer-uv-vis
Gambar 1. Diagram Spektrofotometer UV-Vis



Komponen-komponen Utama Spektrofotometer UV-Vis
·         Sumber sinar
Sumber sinar yang biasa digunakan pada spektroskopi absorbsi adalah lampu wolfarm, deuterium lampu hidrogen. Lampu wolfarm digunakan untuk daerah visibel (tampak) sedangkan untuk lampu hidrogen atau deuterium digunakan untuk sumber daerah UV.
·         Monokromator
Monokromator merupakan serangkaian alat optik yang menguraiakan radiasi polikromatik dan berfungsi untuk memunculkan garis resonansi dari semua garis yang tidak diserap yang dipancarkan oleh sumber radiasi. Alatnya dapat berupa prisma atau grating.
·         Sel penyerap
Penempatan cuplikan yang akan dipelajari pada daerah UV – VIS, pada pengukuran daerah tampak, kuvet kaca corex dapat digunakan tetapi untuk pengukuran pada daerah UV kita harus menggunakan sel kuarsa karena pada daerah ini gelas tidak tembus cahaya. Umumnya tebal kuvet adalah 10 nm, tetapi yang lebih kecil ataupun yang lebih besar digunakan.
·         Detektor
Peranan detektor penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya pada berbagai panjang gelombang. Detektor yang digunakan dalam UV – VIS disebut “ detektor fotolistrik”.
Persyaratan-persyaratan penting untuk detektor meliputi :
1)      Sensivitas tinggi hingga dapat mendeteksi tenaga cahaya yang mempunyai tingkatan rendah sekalipun
2)      Waktu respon yang pendek.
3)      Stabilitas yang panjang
4)      Sinar elektronik yang mudah diperjelas dan sistem pembacaan.



b.      Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)
Spektrofotometri Serapan atom (AAS) adalah suatu metode analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan metaloid yang berdasarkan pada penyerapan (absorpsi) radiasi oleh atom-atom bebas unsur tersebut. Sekitar 67 unsur telah dapat ditentukan dengan cara AAS. Banyak penentuan unsur-unsur logam yang sebelumnya dilakukan dengan metoda polarografi, kemudian dengan metoda spektrofotometri UV-VIS, sekarang banyak diganti dengan metoda AAS.
Keuntungan metoda AAS adalah:
·         Spesifik.
·         Batas (limit) deteksi rendah.
·         Dari satu larutan yang sama, beberapa unsur berlainan dapat diukur.
·         Pengukuran dapat langsung dilakukan terhadap larutan contoh (preparasi contoh sebelum pengukuran lebih sederhana, kecuali bila ada zat pengganggu).
·         Dapat diaplikasikan kepada banyak jenis unsur dalam banyak jenis contoh.
·         Batas kadar-kadar yang dapat ditentukan adalah amat luas (mg/L hingga persen)

Spektrofotometri serapan atom (AAS) adalah suatu metode analisis yang didasarkan pada proses penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berada pada tingkat energi dasar (ground state). Penyerapan tersebut menyebabkan tereksitasinya elektron dalam kulit atom ke tingkat energi yang lebih tinggi. Keadaan ini bersifat labil, elektron akan kembali ke tingkat energi dasar sambil mengeluarkan energi yang berbentuk radiasi.
Dalam AAS, atom bebas berinteraksi dengan berbagai bentuk energi seperti energi panas, energi elektromagnetik, energi kimia dan energi listrik. Interaksi ini menimbulkan proses-proses dalam atom bebas yang menghasilkan absorpsi dan emisi (pancaran) radiasi dan panas. Radiasi yang dipancarkan bersifat khas karena mempunyai panjang gelombang yang karakteristik untuk setiap atom bebas.
Adanya absorpsi atau emisi radiasi disebabkan adanya transisi elektronik yaitu perpindahan elektron dalam atom, dari tingkat energi yang satu ke tingkat energi yang lain. Absorpsi radiasi terjadi apabila ada elektron yang mengabsorpsi energi radiasi sehingga berpindah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Emisi terjadi apabila ada elektron yang berpindah ke tingkat energi yang lebih rendah sehingga terjadi pelepasan energi dalam bentuk radiasi. Panjang gelombang dari radiasi yang menyebabkan eksitasi ke tingkat eksitasi tingkat-1 disebut panjang gelombang radiasi resonansi. Radiasi ini berasal dari unsur logam/metaloid.
Radiasi resonansi dari unsur X hanya dapat diabsorpsi oleh atom X, sebaliknya atom X tidak dapat mengabsorpsi radiasi resonansi unsur Y. Tak ada satupun unsur dalam susunan berkala yang radiasi resonansinya menyamai unsur lain.  Hal inilah yang menyebabkan metode AAS sangat spesifik dan hampir bebas gangguan karena frekuensi radiasi yang diserap adalah karakteristik untuk setiap unsur. Gangguan hanya akan terjadi apabila panjang radiasi resonansi dari dua unsur yang sangat berdekatan satu sama lain.
Ada tiga cara atomisasi (pembentukan atom) dalam AAS :
1)      Atomisasi dengan nyala
Suatu senyawa logam yang dipanaskan akan membentuk atom logam pada suhu ± 1700 ºC atau lebih. Sampel yang berbentuk cairan akan dilakukan atomisasi dengan cara memasukan cairan tersebut ke dalam nyala campuran gas bakar. Tingginya suhu nyala yang diperlukan untuk atomisasi setiap unsur berbeda. Beberapa unsur dapat ditentukan dengan nyala dari campuran gas yang berbeda tetapi penggunaan bahan bakar dan oksidan yang berbeda akan memberikan sensitivitas yang berbeda pula. Syarat-syarat gas yang dapat digunakan dalam atomisasi dengan nyala:
·         Campuran gas memberikan suhu nyala yang sesuai untuk atomisasi unsur yang akan dianalisa.
·         Tidak berbahaya misalnya tidak mudah menimbulkan ledakan.
·         Gas cukup aman, tidak beracun dan mudah dikendalikan.
·         Gas cukup murni dan bersih (UHP).

Campuran gas yang paling umum digunakan adalah Udara : C2H2 (suhu nyala 1900 – 2000 ºC), N2O : C2H2 (suhu nyala 2700 – 3000 ºC), Udara : propana (suhu nyala 1700 – 1900 ºC).
Banyaknya atom dalam nyala tergantung pada suhu nyala. Suhu nyala tergantung perbandingan gas bahan bakar dan oksidan. Hal-hal yang harus diperhatikan pada atomisasi dengan nyala :
a)      Standar dan sampel harus dipersiapkan dalam bentuk larutan dan cukup stabil. Dianjurkan dalam larutan dengan keasaman yang rendah untuk mencegah korosi.
b)      Atomisasi dilakukan dengan nyala dari campuran gas yang sesuai dengan unsur yang dianalisa.
2)      Atomisasi tanpa nyala
Atomisasi tanpa nyala dilakukan dengan mengalirkan energi listrik pada batang karbon (CRA – Carbon Rod Atomizer) atau tabung karbon (GTA – Graphite Tube Atomizer) yang mempunyai 2 elektroda. Sampel dimasukan ke dalam CRA atau GTA. Arus listrik dialirkan sehingga batang atau tabung menjadi panas (suhu naik menjadi tinggi) dan unsur yang dianalisa akan teratomisasi. Suhu dapat diatur hingga 3000 ºC. pemanasan larutan sampel melalui tiga tahapan yaitu :
·         Tahap pengeringan (drying) untuk menguapkan pelarut
·         Pengabuan (ashing), suhu furnace dinaikkan bertahap sampai terjadi dekomposisi dan penguapan senyawa organik yang ada dalam sampel sehingga diperoleh garam atau oksida logam
·         Pengatoman (atomization)


BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.Waktu dan tempat penelitian
Rencananya penelitian ini dilakukan di pusat laboratorium terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3.2.Alat dan bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain spektrofotometer UV-Vis, spekrofotometer serapan atom, pH meter, conductivity meter dan alat-alat gelas yang umum digunakan dalam laboratorium.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain air tanah yang dipakai oleh warga reni jaya RT. 002 RW. 007 sebagai sampel, asam sulfat 20%, asam sulfat pekat, larutan kalium antimonil tartrat, larutan amonium molibdat, larutan asam askorbat, larutan fenol , larutan nitropusida, larutan alkalin sitrat, natrium hipoklorit, larutan pengoksidasi, larutan induk amoniak, larutan baku amoniak, larutan induk sulfat, larutan kerja sulfat, larutan induk Fe, Ca dan Mg 1000 ppm dan aquades.

3.3.Cara kerja
3.3.1.   Pengambilan sampel
Pada penelitian ini sampel diambil dari tiap rumah yang menggunakan air tanah yang berasal dari air tanah yang dipompakan oleh pompa yang dipakai beramai-ramai pada saat hujan dan kemarau. Pengambilan sampel dilakukan saat air tanah belum dipakai kedalam botol khusus yaitu botol polietilen sampai hampir penuh, kemudian ditambahkan HNO­­3 pekat.

3.3.2.   Analisa pH dan suhu sampel
Sampel yang sudah diambil den ditaruh kedalam botol khusus dipindahkan kedalam Erlenmeyer secukupnya, kemudian diukur pH dan suhu dari sampel tersebut dengan pH meter.



3.3.3.   Analisa konduktivitas sampel
Sampel yang sudah diambil den ditaruh kedalam botol khusus dipindahkan kedalam Erlenmeyer secukupnya, kemudian diukur konduktivitasnya dengan menggunakan conductivity meter.

3.3.4.   Analisa kadar BOD dalam sampel
Sampel yang telah diencerkan dimasukkan kedalam 2 botol DO yang berbeda sampai meluap, kemudian ditutup dan dipastikan tidak ada gelembung udara yang terbentuk. Di bagian tutup botol disemprotkan dengan aquademin. Salah satu botol diinkubasi pada suhu 20oC selama 5 hari dan botol yang satu lagi langsung diukur oksigen terlarut dengan DO meter. Setelah itu botol yang telah diinkubasi tersebut juga di ukur oksigen terlarutnya dengan menggunakan DO meter. Dilakukan pengukuran juga untuk blanko.

3.3.5.   Analisa kadar logam Fe, Ca dan Mg dalam sampel
100 mL sampel ditambahkan HNO3, kemudian diuji dengan menggunakan AAS untuk mengetahui konsentrasi Fe Ca dan Mg dalam sampel air. Dicatat konsentrasi Fe Ca dan Mg yang tertera pada AAS dan dibuat kurva kalibrasinya.

3.3.6.   Analisa kadar fosfat dalam sampel
Dipipet 25 mL sampel uji dan dimasukan ke dalam erlenmeyer kemudian ditambahkan satu tetes indikator fenolftalin, jika terbentuk warna merah muda ditambahkan tetes demi tetes H2SO4 sampai warna hilang, lalu ditambahkan larutan campuran yang sudah disiapkan dan dihomogenkan. Larutan ini dimasukan ke dalam kuvet pada alat spektrofotometer untuk dibaca dan dicatat serapan pada panjang gelombang 880 nm dalam kisaran waktu antara 10-30 menit.

3.3.7.   Analisa kadar amonia dalam air
Dipipet 25 mL sampel air dan dimasukan ke dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan 1 mL larutan fenol, 1 mL larutan nitroprusida dan 2, 5 mL larutan pengoksidasi (campuran 100 mL larutan alkalin sitrat dengan 20 mL larutan natrium hipoklorit). Campuran larutan ini didiamkan selama satu jam sampai berwarna biru. Larutan diuji dengan menggunakan spektrofotometer UV-VIS untuk diketahui kadar amonia dalam sampel.

3.3.8.   Analisa kadar sulfat dalam air
100 mL sampel dimasukkan kedalam Erlenmeyer 250 mL, kemudian ditambahkan 20 mL larutan buffer dan diaduk dengan magnetic stirrer. Ketika diaduk ditambahkan 0,2-0,3 g BaCl2. Setelah itu dilakukan pengukuran dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 420 nm.

3.3.9.   Analisa kadar mikrobiologi
a)      Uji penduga
Masing-masing sampel air diambil sebanyak 500 mL kemudian dibuat 3 seri perlakuan. Perlakuan pertama, sampel air dipiper sebanyak 5 mL dan dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berisi medium LBG 10 mL yang didalamnya juga telah berisi tabung durham. untuk seri yang kedua, 1 mL sampel air dimasukkan kedalam tabung reaksi yang telah berisikan medium LBT 5 mL yang didalamnya juga telah berisi tabung durham. Untuk seri yang ketiga, 0,1 mL sampel air dimasukkan kedalam tabung reaksi yang telah berisikan medium LBT 5 mL yang didalamnya juga telah berisi tabung durham. Kemudian ketiga seri ini diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35-37oC. Setelah diinkubasi dilihat tabung tersebut membentuk gelembung atau tidak, apabila terdapat gelembung hasilnya positif dan dapat diteruskan ke perlakuan selanjutnya. Jika tidak terdapat gelembung, maka diinkubasi kembali selama 24 jam pada suhu 35oC. Jika sudah terdapat gelembung, maka bisa diteruskan ke perlakuan selanjutnya. Jika tidak terdapat gelembung, maka hasilnya negative dan tidak perlu dilakukan uji lanjutan. Uji yang positif juga ditunjukkan dengan berubahnya warna dari merah menjadi kuning atau orange.

b)      Uji penguat
Diinokulasikan satu oose biakan dari tabung yang memberikan hasil uji positif terhadap agar EMS (eosin methylene blue). Selanjutnya cawan petri diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC. Dimati koloni bakteri yang tumbuh. Koloni bakteri yang bewarna hijau metalik menunjukkan adanya bakteri coliform.


c)      Uji pelengkap
Koloni bakteri yang berwarna hijau metalik pada media EMB selanjutnya diuji dengan pewarnaan gram. Diinokulasikan koloni bakteri tersebut ke media LBT dan diinokulasikan ke media NA miring. Biakan yang diinokulasikan kedalam media LBT dan NA, diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC. Kemudian diamati perubahan warna yang terjadi dan gas yang terbentuk pada tabung yang berisi media LBT dan biakan.


3.4.Rounded Rectangle: Air tanah yang mengalir ke tiap rumah yang memakainya diambil (± 32 titik sampel) beserta sumber dan air yang melewati pompa.Diagram alur penelitian

3.3.10.                      



 
DAFTAR PUSTAKA
Nur, M.Anwar dan Hendra Adijuwana. 1988. Teknik Spektroskopi dalam Analisis Biologis. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor.

Saeni,M.S. 1989. Kimia Lingkungan. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor.

S.M, Khopkar. 2007.Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press.

Sastrawijaya, A.Tresna M.Sc. 1991. Pencemaran Lingkungan . Surabaya: Rineka   Cipta.

Sastrohamidjojo, Dr.Hardjono. 1965. Spektroskopi. Yogyakarta: Liberty.

Sujianto, Agus Eko,SE.,MM. 2007. Aplikasi Statistik Dengan SPSS Untuk Pemula. Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher.

Yatim, Sofyan, dkk. 1979. Distribusi Logam Berat Dalam Air Laut Teluk Jakarta,Majalah BATAN XII 3. Jakarta: BATAN.

0 Response to "PROPOSAL PENELITIAN AIR "

Post a Comment